pengalaman tentang sedekah???

Jumat, 08 April 2011

ada cerita dikit nih, tentang sedekah ??? dibaca ya??


waktu itu saya lagi sholat di sebuah mesjid di kalimantan tengah tepatnya di muara teweh.sholat ashar tepatnya, setelah melaksanakan sholat berjamaah di mesjid tersebut.tiba2 saya teringat dengan ceramah ust. mansyur yang mana jika " sedekah itu membuat kita menjadi kaya"mendengar perkataan ustadz nih ya...terlintas dalam pikiran untuk melakukan sedekah juga..pas buka dompet, ternyata uang cuma tinggal Rp. 51.000,- doank...wkwkwkwkwkwkparah banget dah...tp dalam hati mikir gini nih...mau sedekah yang RP. 1.000,-atau yang
Rp. 50.000,- ( kata ustd kan siapa yang bersedakah akan diganti menjadi 10X lipat )tapi tembak2an nih...besok makan apaan kan..

jika sedekah Rp.50.000,- tinggal Rp. 1.000,- dah duitnya..tapi ya mantepin lagi dengan yakin bahwa Allah memang akan menggantinya..tp harus ikhlas lo ya...setelah saya yakinin...masukin dah tuh duit ke kotak amal mesjid....( dadah uang 50.000,-... wkwkwkwkwkw )hari menjelang sore...ampe maghrib, ampe isya...ga ada tanda-tanda diganti nih tuh duit jadi Rp500.000,-..dalam hati...ngarep banget.....sampai tengah malam nih...gw dapat telpon dari temen, ada yang ngajakin nonton bareng di Tiara Batara gitu kan..ya udah deh...daripada sendirian dirumah nonton..mendingan rame2 deh...sesampainya di tempat nonton bareng nih ya..eh masya allah...gw ditodong tukang parkir...katanya bayar di depan bangberapa duit man, saya bilang nih..ama tukang parkir tuh...Rp. 2.000,- bang....dengan yakin nih..buka dompet...ingatnya sih,,uang tuh masih buanyak...wkwkwkwkwkpas buka eh...ternyata cuma ada Rp. 1.000,- doank...gw bilang deh ama tukang parkir dengan muka ga tau malu.." bang, ngutang dulu ya Rp. 1.000,- nya " hehehehehehehehehadeeehhh ya allah masa gw sedekah malah kebobolan gini sih...ngutang lagi bayar parkir.....malu maluin ajatrus ceritanya tukang parkir ternyata ga masalah nih..mau bayar yg sisa nanti....he...( mikirnya gw gini nih, paling juga nanti pas pulang tukang parkirna sibuk kebanyakan pelanggan ) hehehehepengen kabur dah tuh...

trus ketemu temen nih yg ngajakin liat bola..di lapangan.." eh ternyata kali ini allah ga becandain lagi..gw dibayarin makanama temen yg ngajakin liat BOla...asyik deh....lumayan..ngilangin lapar,,karena blom makan malam...hihihihihihisampai habis dah tuh....BOlanya maen...mau pulang nih...ternyta emang bener...tukang parkirnya lupaaaaaaaaa.wakakakakakakaka...berhasil gw..selamat lagi euy...hohohohohohohoh

dan akhirnya sampai pagi nih...udah jam 7an gitu lah...mau sholat duha dulu nih ya...2 rakaat lah...mau berdoa nihuang yg kmrn 50.000 beneran di gantiin ga ya..ama Allah swt.setelah sudah selesai sholat dhuha, ngantor deh.....eh pas mau ngantor...alhamdulillah, ternyata beneran temen2...gw dapat komisi yg ga tau dari kerjaan mana gitu dah..udah lupadikasih uang sebesar Rp. 50.000,-langsung dah tuh...dalam hati berfikir...Allah memang bener2 menggantinya sebanyak dua kali lipat..malah lebihkali ya..plus makan juga tadi malam..ama selamat kabur dari tukang parkirnya euy...hehehehetp Allah menggantinya dengan cara yang berbeda..dengan menguji keseriusan kita dulu...ni orang2 bener2 sedekah ga

jadi begitu ceritanya temen2 nih....jadi sekarang..jangan takut untuk sedekah ya???

mau kaya ga??????????
READ MORE - pengalaman tentang sedekah???

Larangan Makan dan Minum sambil berdiri menurut tinjauan Medis

Dari Anas dan Qatadah ra, dari Nabi SAW: Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah ra berkata:
” Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Dari *** Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !!!
” (HR. Muslim)

Rahasia Medis

Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Adapun Rasulullah SAW pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!
Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam.

Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II. Judul: Larangan Minum sambil berdiri, Hal 16
READ MORE - Larangan Makan dan Minum sambil berdiri menurut tinjauan Medis

Sholat Berjama’ah Yuk

Shalat Berjama’ah merujuk pada aktivitas shalat yang dilakukan secara bersama-sama. Shalat ini dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum.
Landasan Hukum
Berikut adalah landasan hukum yang terdapat dalam Al Qur’an maupun Hadits mengenai shalat berjama’ah:
Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman: “Dan apabila kamu berada bersama mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang senjata,…” (QS. 4:102).
Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama’ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).
Dari Ibnu Abbas RA berkata: “Saya menginap di rumah bibiku Maimunah (isteri Rasulullah SAW). Nabi SAW bangun untuk shalat malam maka aku bangun untuk shalat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau.” (HR. Jama’ah, hadits shahih).
Keutamaan
Adapun keutamaan shalat berjama’ah dapat diuraikan sebagai berikut:
Berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)
Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido’akan oleh para malaikat. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat seseorang dengan berjama’ah itu melebihi shalatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan shalat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon: “Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.’ Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).


Terbebas dari pengaruh/penguasaan setan. Rasulullah SAW bersabda: “Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau lembah yang tidak diadakan di sana shalat berjama’ah, melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh setan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan shalat berjama’ah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang terpencil dari kawanannya.” (HR. Abu Daud dengan isnad hasan dari Abu Darda’ RA).
Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda: “Berikanlah khabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Hakim).
Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang shalat Isya dengan berjama’ah maka seakan-akan ia mengerjakan shalat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh berjama’ah maka seolah-olah ia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR. Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).
Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Rasulullah SAW terbiasa menghadap ke ma’mum begitu selesai shalat dan menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam shalat berjama’ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar berbicara setelah selesai shalat sebelum pulang kerumah. Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: “Rasulullah SAW baru berdiri meninggalkan tempat shalatnya diwaktu shubuh ketika matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa bersama dan Nabi SAW pun ikut tersenyum.” (HR. Muslim).
Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma’mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya! Jika ia takbir maka takbirlah kalian, jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian, jika ia mengucapkan ‘sami’alLaahu liman hamidah’ katakanlah ‘Allahumma rabbana lakal Hamdu’, Jika ia sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia shalat sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk pula!” (HR. Bukhori dan Muslim, shahih).
Dari Barra’ bin Azib berkata: “Kami shalat bersama Nabi SAW. Maka diwaktu beliau membaca ‘sami’alLaahu liman hamidah’ tidak seorang pun dari kami yang berani membungkukkan punggungnya sebelum Nabi SAW meletakkan dahinya ke lantai. (Jama’ah)
Merupakan pantulan kebaikan dan ketaqwaan. Allah SWT berfiman: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat.” (QS. 9:18).

Kehadiran Jama’ah Wanita di dalam Masjid

Wanita diperbolehkan hadir berjama’ah di masjid dengan syarat harus menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya syahwat ataupun fitnah. Baik karena perhiasan atau harum-haruman yang dipakainya.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu larang wanita-wanita itu pergi ke masjid-masjid Allah, tetapi hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai harum-haruman.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abu Huraira RA).
“Siapa-siapa diantara wanita yang memakai harum-haruman, janganlah ia turut shalat Isya bersama kami.” (HR. Muslim, Abu Daud dan Nasa’i dari Abu Huraira RA, isnad hasan).
Bagi kaum wanita yang lebih utama adalah shalat di rumah, berdasarkan hadits dari Ummu Humaid As-Saayidiyyah RA bahwa Ia datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan: “Ya Rasulullah, saya senang sekali shalat di belakang Anda.” Beliaupun menanggapi: “Saya tahu akan hal itu, tetapi shalatmu di rumahmu adalah lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalatmu di masjid Umum.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian melarang para wanita untuk pergi ke masjid, tetapi (shalat) di rumah adalah lebih baik untuk mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar RA).

Bagi kaum wanita ada dua pilihan, berdasarkan hadits di bawah ini:

“Jangan kamu melarang para wanita (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim). Hal ini berarti wanita boleh shalat di masjid ataupun di rumah.


Pilihan pertama: Jika wanita memilih shalat berjamaah di masjid pakailah pakaian sopan yang menutup aurat, dan tidak memakai wangi-wangian.
“Perempuan mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi” (HR. Ibnu Majah).

Pilihan kedua: Yang dimaksud dengan wanita lebih baik shalat di rumah, hal itu hanya berlaku jika dilakukan tepat waktu. Dari Ibnu Masud RA, dia berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, amalan apakah yang paling Allah cintai?, beliau bersabda: Shalat tepat pada waktunya“. (HR Bukhari Muslim).

Hati-hati …!!! Coba kita lihat, berapa banyak wanita yang memilih untuk shalat di rumah tapi tidak shalat tepat waktu! Jika wanita kesulitan shalat tepat waktu di rumah, maka ia lebih baik shalat berjamaah di masjid demi menjaga shalat tepat waktu. Tegasnya, wanita yang memilih shalat berjamaah di masjid jauh lebih baik ketimbang wanita yang memilih shalat di rumah, tapi tidak tepat waktu.

Selain itu, wanita juga harus memberi dorongan kepada suami, ayah, saudara laki-laki dan anak laki-lakinya agar shalat berjamaah di masjid.


Imbalan bagi siapa saja yang memberi dorongan untuk shalat berjamaah di masjid:

“Barangsiapa merintis jalan kebaikan dalam Islam, berarti dia memperoleh pahala (sendiri) dan pahala orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan tersebut dengan tiada mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim).

Konkretnya, jika kaum wanita selalu mengingatkan dan memberi motivasi kepada suami, anak laki-laki, saudara laki-laki, ayah dll untuk shalat berjamaah di masjid, maka ia akan memperoleh sebanyak pahala dari mereka yang berjamaah karena dorongannya itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.


Inilah peranan penting kaum wanita dalam membangun shalat berjamaah bagi keluarganya. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At Tahrim:6).


READ MORE - Sholat Berjama’ah Yuk

kejadian magrib....Muara Teweh city....

Saya ingin bercerita, kejadian ini terjadi beberapa waktu yang lalu..*(kejadian di kota Muara Teweh, sekitar waktu menjelang magrib perjalanan ke mesjid )

Waktu itu saya sedang tergesa gesa karena terlambat menuju ke mesjid yang akan memasuki waktu sholat magrib, gak perduli berapa kecepatan motor yang ditunggangin nih…sampai gak pake helm waktu itu…he..sory pak polisi dah..melanggar sikit gpp yah…demi kejar waktu..
Saat hampir sampai menuju mesjid, ada suatu pemandangan yang sangat meyentuh qalbu…ciyee qalbu…hati kalleeeeee………….

Disaat itu saya berbarengan dengan seorang laki-laki yang bersemangat untuk berangkat ke mesjid juga..di berjalan kaki, dengan tertatih karena dia mengalami cacat*(maaf ya..bukan maksud utk menjelekan, laki-laki cacat itu ternyata bukan hanya cacat di fisik tapi juga mengalami kekurangan pada bagian mentalnya…

Tapi sungguh yang membuat terharu adalah;
bayangkan teman2 dia yang punya kekurangan seperti yg saya sebutkan di atas, mau bersusah payah berangkat ke mesjid…sedangkan kita yang sehat dan kuat malah meninggalkan sholat kita…bahkan ke mesjid pun malas-malasan. ini sebuah pelajaran yang di tunjukkan oleh Allah SWt kepada kita semua….

Sholat tepat waktu yuuk….

Mendirikan sholat sudah menjadi rutinitas dari seorang Muslim dan Muslimah, karena memang itu salah satu hal yang wajib dari perintah wajib lainnya yang harus ditunaikan. Ditandai Adzan berkumandang, itulah seruan sholat memanggil kita untuk segera menunaikan sholat. Saat waktu sholat tiba, tidak ada yang lebih penting untuk dilakukan selain mendirikan sholat dan bergegaslah mencari air untuk berwudhu lalu segera sholat.

Senang rasanya bila senantiasa bisa sholat tepat pada waktunya, apalagi sholatnya berjamaah di Masjid. Selain akan mendapatkan nilai pahala dua puluh tujuh kali lebih utama dibanding sholat sendirian di rumah, seiring dengan itu ingin membangun prestasi dalam sholat. Bukankah amal sholat yang pertama akan dihisab nanti di akhirat, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad S. A. W dalam haditsnya, " Yang Pertama diHisab dari Amalan Hamba pada hari Kiamat adalah Sholatnya!!!.

Jika Sholatnya baik, ia Beruntung dan Selamat. Akan tetapi jika Sholatnya Kurang, ia Merugi. " Ini kutipan ayat, kita dianjurkan untuk memakmurkan Masjid

"Hanyalah yang memakmurkan Masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman pada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat"
Surah At-Taubah ayat 18.

Nabi Muhammad S. A. W juga menganjurkan ummatnya untuk
menyegerakan sholat, berikut ini haditsnya

"Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'. "
(HR Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih).

"Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Telah datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya. ' Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberikan keringanan kepadanya.
Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, "Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, "Ya. ' Beliau bersabda, "Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'. " (HR Muslim).



READ MORE - kejadian magrib....Muara Teweh city....

 
 
 

VIVAnews - SOROT

VIVAnews - BOLA

VIVAnews - NASIONAL

VIVAnews - BISNIS

VIVAnews - METRO

VIVAnews - DUNIA